Menuju Partai Kaum Tertindas Sedunia

Wednesday, 25 November, 2009

Jadikanlah kekuasaanmu yang sangat pada segala sesuatu yang paling dekat dengan kebenaran, paling luas dalam keadilan, dan paling meliputi kepuasan rakyat banyak. Sebab, kemarahan rakyat banyak mampu mengalahkan kepuasan kaum elit. Adapun kemarahan kaum elit dapat diabaikan dengan adanya kepuasan rakyat banyak. Sesungguhnya rakyat yang berasal dari kaum elit ini adalah yang paling berat membebani wali negeri dalam masa kemakmuran: paling sedikit bantuannya di masa kesulitan; paling membenci keadilan; paling banyak tuntutannya, namun paling sedikit rasa terimakasihnya bila diberi; paling lambat menerima alasan bila ditolak; dan paling sedikit kesabaranya bila berhadapan dengan berbagai bencana. (Imam Ali)

Sudah saatnya kita, rakyat, kembali menggugat negara terhadap amanah yang kita berikan kepada elit Negara ini. Demokratisasi yang mereka janjikan ternyata hanya kedok untuk melakukan pembenaran penghisapan terhadap sumber-sumber ekonomi, dengan tujuan memperkaya diri. Bangunan demokrasi yang mereka dirikan ternyata dibentuk tidak atas dasar nilai-nilai universal, toleransi, dan penghormatan terhadap hukum apalagi tegak diatas nilai-nilai keadilan. Padahal, Plato mengatakan keadilan ditegakkan untuk mengatur serta menyeimbangkan kebajikan-kebajikan lain.

Pendelegasian wewenang kita kepada orang-orang yang kita anggap kredibel untuk mengurusi dan mengatur menjadi sebuah keteraturan ternyata dikhianati mentah-mentah. Mereka anggap, kontrak social yang dilakukan hanya lembaran tinta hitam tiada makna. Keikhlasan kita atas pelepasan beberapa hak-hak tertentu untuk menciptakan kemaslahatan umum (common good), mereka manfaatkan sebagai legitimasi eksploitasi atas nama Negara. Kita punya hak untuk bersikap kritis terhadap mereka.!!!

Moral sebagai basis system keyakinan adalah semangat memobilisasi potensi segenap individu untuk melakukan pembaharuan dalam konteks kemasyarakatan. Tapi lacur, degradasi moral bangsa ini sudah sampai pada titik nadirnya. Moral sudah berada di tong sampah belakang rumah. Pengangkangan nilai-nilai keadilan semakin menjadi-jadi dan telah bermetamorfosis. Perlakuan tidak senonoh juga dipertunjukkan elit negeri ini adalah bukti nyata kejahatan yang dilakukan Negara. Lantas bagaimana mungkin kita berharap kepada mereka yang telah mengalami degradasi moral tersebut?!. Kita tidak akan mau menuruti begitu saja saran Thoreau, yang mengatakan “Apabila ketidakadilan menjadi bagian penting dalam mesin pemerintahan, biarkan! Dia akan segera berlalu dengan sendirinya”. Tidak!, tidak mungkin kita hanya diam begitu saja. Saat ketidakadilan telah merajalela dan telah merongrong segenap sendi kehidupan kita. Imam Ali pernah berkata, Ketidakadilan harus dilawan!.

Jika Ahmad Syafii Ma’arif dan Franz Magnis-Suseno (2003) berbicara keras tentang kerusakan bangsa Indonesia yang “hampir sempurna”, sehingga tinggal tunggu waktu dibawa masuk jurang. Ternyata bukanlah omong kosong, buktinya semakin nyata. Kaum elit negeri ini (pejabat Negara dan penegak hukum) telah menunggangi “kebenaran riil”, menggantikannya dengan kebenaran lipstick. Mulut mereka telah mereka cemongi dengan kata-kata “kebenaran”. Perilaku mereka tutupi dengan kemunafikan agar terus bisa menghisap. Mereka mampu survive dikarenakan berkolaborasi dengan begundal-begundal politik yang telah berhasil bertransformasi menjadi mafia yang tak berkeprimanusiaan. Mereka benar-benar telah berhasil memainkan peran sebagai tokoh antagonis. Tak hanya sekedar berhasil berperan sebagai tokoh antagonis, mereka juga mampu memainkan emosi kita. Ibarat penonton, kita hanya bisa geram dan mengutuk. Kaum elit yang seperti ini harus kita basmi layaknya hama yang menyerang lahan pertanian kita.

 

(Langit hitam)


Janji Seorang Pemimpi

Wednesday, 25 November, 2009

Tatkala sore menghampiri, angin tak lagi berhembus hangat. Bersiap-siaplah setapak langkah janji menuju mu. Dia datang merebut segala yang telah kau rampas, semuanya sampai-sampai semua yang memang menjadi milik mu akan dirampasnya juga. Dia bukan sedang cerocos sembarangan, satu dua kata yang keluar dari mulutnya pasti akan dia lakukan. Tak peduli akan bagaimana hasilnya nanti. Yang jelas dia akan berbuat dulu.

Tebaran warna merah telah meratakan langit yang sedari awal di dominasi warna biru. Di ujung barat mereka berkumpul bersatu berusaha mengatakan sesuatu, kepada para penghuni bumi. Tapi sepertinya tak ada yang perduli dengan mereka. Makhluk bumi tetap saja menghiraukannya. Merah memang tak pernah bisa menjadi sahabat para langit. Sebab merah selalu hadir sebagai tanda penutup. Berbeda dengan biru. Biru memiliki jiwa yang bersahabat. Tanda-tanda awal kehidupan dimulai. Tapi mengapa merah selalu hadir di ujung hari disaat-saat suasana semakin meriah?. Seharusnya kau menyesal, ditugaskan hanya untuk membuat orang kesal dan marah. Cobalah sesekali tampil dinamis. Hadir diluar kebiasaan. Kau mungkin tak pernah merasakannya kan? Tampilanmu terlalu monoton. Bersaing lah dengan biru dengan menunjukkan bahwa kau juga bisa hadir sebagai tanda awal kehidupan.

Kemarin awan berbaris rapi membentuk sebuah formasi cerah memberikan matahari keleluasaan untuk bersinar. Alangkah sia-sianya matahari seharian bersinar mempersilahkan kau untuk bergeliat di muka bumi. Dikarenakan prilaku bodoh mu tak juga kau campakkan. Sudah ku bilang sedari awal, pakai otak mu bodoh!. Dunia tak akan banyak berubah bila orang-orang seperti mu masih berkeliaran. Tidak kah kau berpikir!. Keadaan menjadi stagnan akibat ucapan-ucapan pelecehan tentang kebenaran dan keadilan mu. Padahal kau sama sekali tidak pernah berlaku adil pada dirimu sendiri.

Tak mudah memikul amanah ini. Konsekuensinya besar. Bisa-bisa tubuh mu sendiri akan terbakar hebat tanpa sempat kau padamkan. Pertimbangkanlah sekali lagi sebelum kau ambil keputusan tersebut. Sebab sudah banyak manusia-manusia yang telah gagal memikulnya. Mereka terlalu percaya diri, anggap diri paling mampu tapi pada akhirnya kelimpungan. Malangnya, bukanya mengakui kesalahan tetapi berkomat-kamit tentang alasan.

Sebelum ambil keputusan carilah hujjah sebelum berujar agar dapat dipertanggungjawabkan. Percayalah mereka akan setia mendampingimu seberapa sulit pun persoalan yang kau hadapi. Kau tau, tak ada yang namanya hujan, yang ada hanya air yang jatuh akibat titik jenuh awan-awan . tak ada kesalahan jika kau paham.
Akhirnya, Merah dan birunya langit akan selalu berada diatas mu.

 

(Langit hitam)


Dilema VS Komitmen

Wednesday, 25 November, 2009

Langit dan Bumi setengah tidak percaya. Saat kaki-kaki ini, masih mampu menempuh perjalanan sulit. Kami belum mendengar keluhan yang keluar dari gemeretak sepasang tulang kaki. Padahal perjalanan yang telah dilalui selalu diatas hamparan batu-batu kerikil.

Peluh keringat tak tertahan kan lagi jatuh di wajah sang Bumi, menembus jauh melewati hitamnya tanah yang dilapisi batu-batu kerikil tersebut. Aku pun demikian. keringat ku pun sudah bercucuran tak tahan akibat lelahnya perjalanan ini. Akan tetapi di depan sudah tampak tujuan kami. Rasa lelah ini tak menjadi halangan berarti untuk menghambat kami menggapai akhir dari rencana.

Aku dan Bumi akan selalu bersama-sama melewati setiap persoalan yang datang meskipun dia hadir dalam bentuk dilema. Dia, dilema yang mempersulit pilihan-pilihan sehingga membuat kami gamang mencari jalan keluar. Pernah memang kami dhinggapi dilema itu. Dia datang begitu hebat seolah-olah dia tak akan terkalah kan dengan sebuah komitmen. yang membuat kami hampir saja berbalik arah dan memutuskan pisah.

Syukurlah komitmen kami sekeras karang yang tak mudah hancur walapun dibenturkan bergulung-gulung ombak besar. kami memang tidak memiliki apa-apa selain komitmen. komitmen lah yang selalu kami rawat sehingga terjaga dari musuh-musuh kami.

(dedicated for N & D, ..sabar kawan dilema akan terkalahkan dengan komitmen)

(Langit hitam)


In (telek) tual

Wednesday, 25 November, 2009

Suara-suara protokoler menyumbat gendang telinga kaum terpelajar
Menghajarnya sampai babak belur

Tubuh yang tak punya kekuatan hati, kekuatan badan, dan pengetahuan akan tergampang kan tergeruk oleh pembual suara protokoler

Mereka ternyata adalah kaum yang kosong
Ketika dihajar dengan rumah dan tanah, berlutut sigap tanpa gemetaran merampas

Jiwa-jiwa mereka sudah kering kerontang
Tergadaikan dengan amal pamrih
Mereka tidak lagi merdeka dengan pengetahuan

Mereka telah menjadi budak pengetahuan mereka
Sebagaimana budak yang akan mencampakkan jauh-jauh kerelaan, dan keikhlasan Berbuat demi sebuah pengakuan majikan

Keningnya di dekatkan dengan marmer putih dingin, mulutnya congok mengunyah sampah-sampah kebijakan
Tak lagi dekat dengan tanah, dan tak lagi mau mengunyah sirih merah kebajikan

Mereka tak lagi berani memadamkan api yang telah mereka nyalakan di punggung mereka sendiri
Hanya menjaga-jaga agar jangan sampai api akan menjadi besar
membiarkan api tetap kerdil dengan nyala-nyala redup

Kulihat mereka sudah mulai mengikatkan lehernya dengan rantai merah garis-garis
Katanya, pakaian ini adalah rujukan pengetahuan, tafsiran jaminan kebenaran, yang pastikan tak kau jumpai di lain tempat

Kepongahan, mulai merambah diatas kertas putih. Dan akan mulai disebarkan melalui tinta-tinta hitam yang sudah dimanipulasi

Mereka sudah mulai bermain kasar, tak lagi malu-malu menghisap isi tulang punggung demi popularitas. Segan pun sudah mereka sobek dari daftar kamus mereka.

Gawat!! Mereka semakin berkembang biak layaknya virus, menyebar tak terkendali menginfeksi siapa saja yang mendekat dengan mereka

Manuver jalanan harus segera bertindak. Kalau tidak, aku pun akan terjangkit bualan-bualan pengetahuan kosong

Tribute to WS Rendra
Selamat Jalan..terima kasih atas warisan yang kau tinggalkan..

 

(Langit hitam)


Catatan Langit Hitam: Gie

Wednesday, 25 November, 2009

AADC, Biola Tak Berdawai, 30 Hari Mencari Cinta, Virgins, Ungu Violet, dan banyak lagi film-film Indonesia yang bertemakan cinta, sex, gaya hidup yang berlebihan dan cenderung tidak rasional dengan kondisi nyata yang terjadi di negeri, memang membuat hati dan pikiran kita mengalami ekstaksi.

Syukurlah ada orang yang mau bermurah hati membuatkan sebuah film anak muda Indonesia yang melegenda, yang kita hanya tau lewat buku, artikel, cerita kawan dan senior, judul bukunya saja di mana bentuk dan tebalnya kita tidak pernah tau. Dialah Gie yang lengkapnya adalah Soe Hok Gie seorang anak bangsa yang sebenarnya tidak kalah revolusionernya dengan tokoh revolusioner dari Kuba yaitu Che Ernesto Guevara.

Film Soe Hok Gie yang diputar beberapa waktu lalu bisa menjadi alternatif tontonan kepada kaum muda yang sedang mengalami transisi pemikiran maupun sikap. Dan juga film ini bisa di jadikan counter terhadap serbuan film-film Hollywood yang merusak dan hanya membuat generasi muda kita semakin terlelap, terlena tak sadarkan diri dan perlahan-lahan kehilangan identitas maupun sikap hidup.

Dengan beredarnya film Gie yang menggambarkan sosok anak muda yang mengalami pergolakan pemikiran yang tajam dan selalu bertanya mengenai persoalan yang sering tidak sesuai dengan hati nurani. Film Gie diharapkan mampu memberikan gambaran bahwa seorang anak muda tidak hanya hidup dalam lingkungan hambar tetapi mampu menyebarkan virus-virus pembebasan berpikir, bertindak simpatik, memiliki sikap kritis dan idealis.

Gencarnya serbuan budaya asing yang didukung oleh media-media asing baik cetak maupun televisi memang tak terbendung lagi. Yang menyebabkan tumpulnya daya kreatifitas kita. Oleh karena itu, dengan memahami realita yang menipu ini mari kita kampanyekan budaya anak muda-anak muda anti budaya pop. Termasuk untuk menolak mengkonsumsi produk-produk massal seperti Coca Cola, Pepsi, Mc Donald, KFC, Rokok Marlboro, Lucky Strike, dll.

Terakhir terima kasih kepada pembuat film Gie yang memberikan beberapa teguk kerinduan akan film-film yang mengajarkan kita untuk bersikap.

nt: tulisan lama yang tak terpublikasikan, mudah2an brmanfaat.

(Langit Hitam)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.